Kategori: Budaya

Melepaskan Kekuatan Permainan: Menggali Dunia Game

Dalam realitas kita saat ini di mana inovasi terus berkembang pesat, ada satu jenis pengalihan yang tetap ada: permainan. Dari peradaban kuno yang menikmati permainan penting hingga pengalaman yang lebih mendalam di zaman maju, permainan telah memikat hati dan otak orang-orang dari semua lapisan masyarakat dan usia. Kita harus memulai perjalanan melalui berbagai adegan permainan, menyelidiki perkembangannya, pengaruhnya, dan kemungkinan hasil yang ditawarkannya.

Pengembangan Game: Dari Pong hingga Augmented Reality

Latar belakang sejarah permainan https://puskesmastegalangus.com/ sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, dengan bukti permainan meja awal ditemukan dalam temuan arkeologis yang berasal dari Mesir kuno dan Mesopotamia. Permainan awal ini berfungsi sebagai sumber pengalih perhatian serta instrumen untuk sosialisasi, pengembangan keterampilan, dan, yang mengejutkan, adat istiadat yang ketat.

Dua ratus tahun kemudian, perkembangan permainan elektronik mengubah bisnis. Dari Pong yang dasar namun membentuk kebiasaan hingga Super Mario Brothers yang sangat penting, permainan komputer berubah menjadi spesialisasi sosial, memikat para pemain dengan pertemuan intuitif dan dunia kreatif mereka. Pendekatan pusat kendali di rumah, misalnya, pengaturan Atari 2600 dan Nintendo Theater (NES), membawa game ke ruang keluarga jutaan orang, memperkuat posisinya di masyarakat arus utama.

Seiring dengan kemajuan inovasi, kompleksitas dan keseruan game pun ikut berkembang. Munculnya PC dan web ASTONSLOT mendorong kemajuan game berbasis web multipemain (MMO), di mana pemain dari seluruh dunia dapat berbaur dan bekerja sama di dunia virtual yang sangat besar. Dengan munculnya ponsel dan tablet, permainan kasual mencapai tingkatan baru, menjadikan permainan terbuka untuk lebih banyak orang dibandingkan sebelumnya.

Saat ini, kita berada di ambang era kritis dalam dunia game dengan munculnya kemajuan teknologi computer-generated reality (VR) dan augmented reality (AR). Inovasi nyata ini menjanjikan untuk membawa pemain ke aspek yang benar-benar baru, mengaburkan batas antara dunia virtual dan dunia nyata.

Suku Tengger : Penjaga Tradisi Nenek Moyang

Di lereng Gunung Bromo yang megah, tinggallah Suku Tengger, komunitas yang masih kental dengan tradisi dan kepercayaan leluhur. Kehidupan mereka diwarnai dengan ritual mistis dan spiritualitas yang mendalam, menarik perhatian banyak orang untuk menjelajahi budaya mereka yang unik.

Menelusuri Jejak Leluhur:

Suku Tengger percaya bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Roro Anteng dan Joko Seger, dua pangeran yang diusir dari Kerajaan Majapahit. Legenda ini menjadi fondasi kepercayaan mereka dan tertanam dalam berbagai ritual adat yang mereka lakukan.

Ritual Kasada: Persembahan untuk Sang Hyang Widhi:

Salah satu ritual paling terkenal dari Suku Tengger adalah Upacara Kasada. Setiap tahun, pada bulan purnama di bulan Kasada (biasanya jatuh pada bulan Juni), masyarakat Tengger mendaki Gunung Bromo untuk mempersembahkan sesaji kepada Sang Hyang Widhi, dewa tertinggi mereka. Ritual ini menjadi simbol rasa syukur atas panen yang berlimpah dan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.

Kepercayaan Animisme dan Kearifan Lokal:

Suku Tengger menganut kepercayaan animisme, di mana mereka meyakini bahwa setiap benda di alam memiliki roh. Kepercayaan ini tercermin dalam berbagai ritual dan tradisi mereka, seperti ritual melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo dan tradisi menjamas pusaka keramat.

Menjelajahi Keindahan Alam dan Budaya:

Selain tradisi dan kepercayaan yang unik, Suku Tengger juga menawarkan keindahan alam yang memukau. Desa-desa tradisional mereka yang terletak di lereng Gunung Bromo, dengan rumah-rumah yang terbuat dari batu dan kayu, memberikan nuansa mistis dan autentik.

Menjaga Kelestarian Budaya:

Di era modern ini, budaya Suku Tengger menghadapi berbagai tantangan, seperti globalisasi dan modernisasi. Upaya untuk menjaga kelestarian budaya mereka menjadi semakin penting. Generasi muda Suku Tengger perlu didorong untuk mempelajari dan melestarikan tradisi leluhur mereka.

Mengunjungi Suku Tengger:

Bagi para penjelajah budaya, mengunjungi Suku Tengger akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Kesempatan untuk melihat langsung ritual adat yang mistis, merasakan keramahan masyarakat lokal, dan menikmati keindahan alam yang memesona, menjadikan Suku Tengger sebagai destinasi wisata budaya yang unik dan menarik.

Ragam Filosofi Rumah Adat Sumatera Selatan

Masyarakat Sumatra Selatan membawa keanekaragaman grup budaya dan etnis, yang secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni etnis pribumi dan pendatang.

Etnis pribumi berada dalam suatu term kolektif “Melayu Palembang” yang dapat dibagi lagi menjadi dua subkelompok, yakni orang Iliran dan orang Uluan. Semua etnis hidup beriringan secara damai di Sumatra Selatan, lebih-lebih tidak pernah berlangsung konflik antaretnis maupun umat beragama.

Sama halnya bersama sebagian provinsi lainnya, Sumatra Selatan terhitung punyai sebagian tempat tinggal adat. Apakah anda udah sadar daftar tempat tinggal tradisi Sumatra Selatan? Tenang, tak wajib bingung mencari informasinya dikarenakan daftar tempat tinggal tradisi Sumatra Selatan akan dibahas di artikel berikut ini. Jadi, selalu review artikel ini hingga selesai.

Daftar Rumah Adat Masyarakat Sumatra Selatan

Masyarakat yang berada di Sumatra Selatan terhitung punyai tempat tinggal adat bersama banyak variasi nilai peristiwa dan filosofi. Rumah-rumah adat itu masing-masing punyai keunikan tersendiri.

Bentuk dan faedah tempat tinggal adat itu secara lazim relatif berbeda bersama tempat tinggal adat yang berada di daerah lain. Hal berikut sebab suasana geografis Sumatra Selatan mayoritas bersifat sungai, rawa, dan perairan.

1. Rumah Ulu

Rumah ulu merupakan purwarupa rumah tradisional Sumatra Selatan yang berasal berasal dari dataran tinggi Besemah di sebelah barat dan menyebar hingga ke arah timur dataran rendah permukiman sepanjang Sungai Ogan. Rumah ini berupa panggung bersama dengan atap curam dan dinding kotak. Rumah selanjutnya umumnya digunakan oleh masyarakat yang tinggal di lebih kurang hulu Sungai Musi.

Secara etimologis, ulu berasal berasal dari kata “uluan” yang punyai pengertian perdesaan. Uluan juga dipakai sebagai penyebutan bagi masyarakat yang tinggal di permukiman anggota hulu Sungai Musi. Secara umum, rumah ini punyai wujud basic denah aspek empat yang terdiri atas garang di anggota paling depan.

Bagian tengahnya terdiri atas sengkar atas dan sengkar bawah. Selain itu, rumah ini juga punyai suatu plafond, tetapi hanya di sebagian ruangan yang disebut bersama dengan pagu hantu. Pagu hantu bermanfaat sebagai daerah penyimpanan bahan makanan dan barang-barang pemiliknya.

2. Rumah Kilapan

Rumah kilapan merupakan purwarupa tempat tinggal tradisional Sumatra Selatan yang tidak punyai ukiran di dindingnya, tetapi lumayan dilicinkan atau dihaluskan bersama dengan memanfaatkan ketam dan sugu. Rumah tersebut juga sebagai tempat tinggal panggung bersama dengan tinggi kira-kira 1,5 meter.

Namun, tiang-tiang yang digunakan sebagai penyangga tempat tinggal tidak ditanam ke didalam tanah seperti halnya tempat tinggal limas.

Tiang-tiang itu hanya didirikan di atas tanah dan diperkuat bersama dengan baru-baru. Tiang seperti ini disebut bersama dengan tiang duduk. slot bet kecil

Susunan ruang dari tempat tinggal kilapan serupa seperti tempat tinggal tatahan. Ruangannya terdiri atas ruang depan, ruang sengkar atas, dan ruang bawah.

3. Rumah Rakit

Rumah rakit merupakan purwarupa rumah tradisional tertua di Sumatra Selatan. Eksistensinya diperkirakan telah tersedia sejak zaman Kedatuan Sriwijaya.

Rumah tersebut dibangun di atas rakit dan mengapung di selama aliran Sungai Ogan, Sungai Musi, dan Sungai Komering. Rumah ini wajib diikat ke sebuah serdang (penambat) sehingga tidak hanyut terbawa arus.

5 Daftar Upacara Adat di Bali yang Bisa Anda Hadiri Untuk Pariwisata

Upacara Adat di Bali – Ada banyak macam upacara adat di Bali. Hal ini tidak lepas dari mayoritas penduduk Bali yang beragama Hindu. Upacara adat pada umumnya memadukan unsur agama Hindu dan budaya Bali. Nah, upacara adat ini juga menjadi daya tarik wisata di Bali karena keunikannya. Nah, jika Sobat kamu berwisata ke Bali pastikan kalian menghadiri upacara adat berikut ini yang website https://www.theclawatusfgolf.com/ berikan.

Upacara adat apa saja di Bali yang menarik wisatawan?

Upacara adat masih sering diadakan di Bali hingga saat ini. Tujuan dilaksanakannya upacara ini adalah untuk meneruskan tradisi yang diwariskan secara turun temurun pada masyarakat Bali. Tentunya sebagian besar upacara adat juga erat kaitannya dengan perayaan agama Hindu. Sebagai perayaan dan pelestarian budaya Bali, biasanya diadakan upacara adat sebagai berikut:

1. Upacara Mesuryak

Upacara Mesuryak berlangsung dengan penuh kegembiraan dan suasana meriah. Merupakan upacara yang diadakan setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan hari raya Kuningan dan dilaksanakan di Desa Bongan, Tabanan.

2. Upacara Omed-Omedan

Upacara Omed-Omedan biasanya dilaksanakan setelah hari raya Nyepi. Pada awal upacara, terdapat kegiatan doa massal di pura. Kemudian, kelompok remaja putri yang belum menikah berusia 18 hingga 30 tahun akan saling berhadapan. Umumnya akan ada satu remaja putri dan satu remaja putra yang maju ke depan dan disiram air.

3. Upacara Tumpek Landep

Tumpek Landep merupakan upacara adat yang dilakukan masyarakat Bali dengan tujuan untuk menyucikan senjata dan perlengkapan yang dimilikinya. Senjata dan perlengkapan ini disucikan melalui doa dan persembahan.

4. Upacara Otonan

Upacara Otonan juga unik dan menarik. Ini adalah upacara adat yang diadakan untuk merayakan kelahiran bayi. Untuk melaksanakannya, upacara ini dilakukan pada saat bayi berusia 6 bulan. Kemudian akan diadakan kembali setiap 6 bulan setelahnya namun dengan upacara yang lebih kecil.

5. Mekare-Kare

Upacara adat Mekare-Kare ini biasa dilakukan oleh masyarakat Tenganan, Karangasem. Menariknya, upacara adat Mekare-Kare hanya dilakukan oleh laki-laki. Mekare-Kare merupakan sebuah acara yang bertujuan untuk menunjukkan kehebatan satu sama lain. Mereka akan bertarung nanti.

Upacara Adat Batak Toba Yang Wajib Kalian Ketahui !

Etnis batak merupakan salah satu etnis di Indonesia dengan banyaknya budaya, sejarah dan juga adat istiadat yang masih amat menempel terhadap masyarakatnya.

Salah satu rutinitas yang sering kali diidentikan dengan etnis batak adalah upacara adat. Sebagai keliru satu etnis dengan beragam istiadat, etnis batak tentu punyai banyak ragam upaca yang sampai kini masih sering kali diselenggarakan.

Seperti empat upacara tradisi unik masyarakat etnis batak ini yang jarang diketahui masyarakat terhadap umumnya. Mari simak ulasannya terhadap artikel selanjutnya ini:

1. Manulangi Natuatua

Manulangi mempunyai arti menyulang atau menyuap, namun Natuatua berarti orang tua. Manulangi Natuatua sendiri merupakan tidak benar satu tradisi masyarakat Batak Toba, di mana anak-anak berkunjung ke tempat tinggal orang tua mereka untuk memberi makan orang tua mereka dan ditunaikan secara berurutan, yaitu merasa dari anak-anak tertua sampai cucu termuda.

Pesta ini hanya bisa ditunaikan seumpama orangtua selanjutnya telah mempunyai cucu, atau bisa terhitung ditunaikan oleh orangtua yang telah memasuki jaman krisis (mendekati kematian).

Uniknya pesta ini seringkali diikuti bersama dengan prosesi bagian harta warisan. Prosesi ini umumnya ditunaikan secara paruma tano, paruma gogo. Paruma tano, paruma gogo mempunyai arti bahwa harta warisan yang telah dibagi akan tetap menjadi punya orangtua semasa hidup.

2. Mangokal Holi

Mangokal Holi berarti menggali kubur, merupakan tidak benar satu tradisi yang diakui sakral bagi kehidupan masyarakat Batak Toba. Ritual Mangokal Holi mempunyai tujuan untuk menggapai hagabean, hasangapan, dan hamoraon (usia panjang, kehormatan, dan kekayaan). Meski zaman telah berubah, tradisi ini selalu dipertahankan sampai waktu ini.

Keunikan didalam pelaksanaan pesta tradisi ini adalah marga yang menggelar Mangokal Holi kudu menjamu semua keluarga besar dan tetangga kampung yang ada. Bahkan didalam pelaksanaan upacara ini umumnya di sediakan daging kerbau. Sehingga bisa dikatakan pesta tradisi ini bisa mempererat tali kekerabatan.

3. Mangadati

Mangadati adalah pelaksanaan perkawinan tradisi (marunjuk) ”menerima-membayar” yang telah menerima pemberkatan nikah sebelumnya, di mana ke dua belah pihak orang tua sepakat, adatnya ditunaikan lantas hari atau kawin lari (mangalua) di mana acara ini ditunaikan pihak pengantin laki-laki (paranak).

Uniknya dari pesta ini yaitu pesta mangadati ditunaikan untuk membayar hutang adat. Hutang tradisi ini berlangsung seumpama seseorang lakukan pernikahan catatan sipil, tetapi belum lakukan pernikahan adat.

Dalam batak, upacara pernikahan tradisi berupa wajib. Itu sebabnya seumpama belum lakukan upacara adat, kudu selalu ditunaikan dikemudian hari sehingga akan dihitung sebagai hutang adat.

4. Upacara Kematian

Bagi masyarakat Batak, orang mati kudu diperlakukan bersama dengan khusus, di mana kematian orang Batak ditunaikan bersama dengan pesta dan bahagia cita.

Terdapat banyak model upacara kematian berdasarkan orang Batak Toba yaitu: tilahaon (upacara kematian anak), mate ponggol (meninggal sebelum saat menikah), mate diparalangngalangan (meninggal telah menikah tetapi belum dikaruniai anak), mate mangkar, matipul ulu, dan mantompas tataring (meninggal bersama dengan meninggalkan anak keturunan yang tetap kecil), mate hatungganeon (meninggal belum mempunyai cucu), mate sari matua (meninggal belum mempunyai cucu), mate saur matua (meninggal telah mempunyai anak cucu) dan saur matua bulung (meninggal telah mempunyai cicit dari anak laki laki dan anak perempuan).

Upacara ini amat unik sebab etnis batak mempunyai upacara tersendiri mengenai bersama dengan kematian orang terdekat. Namun tidak hanya itu keunikan didalam upacara ini, sebab didalam upacara ini terkandung sebuah benda yang kudu untuk disiapkan yaitu, sijagaron.

Suku Di Indonesia Dengan Wanita Berparas Cantik

Seperti yang diketahui Indonesia adalah Negara yang kaya dapat suku, tradisi dan budayanya. Yang di mana Setiap Daerah pastinya mempunyai suku bersama ciri khasnya berlainan masing-masing.

Nah Kamu Tahu ga? Kalau tersedia sebagian Suku yang sama juga dan menjadi Suku penghasil Wanita yang cantik di Indonesia lho. Berikut ini kami berikan referensi suku yang memiliki wanita dengan paras cantik.

1. Suku Dayak

Suku Dayak berada posisi pertama penghasil Wanita tercantik di Indonesia.

Konon, Suku Dayak selamanya didatengi pedagang Cina agar Mereka menikah dan menghasilkan keturunan bersama kulit cerahnya.

Dalam merawat kulit putihnya, umumnya Suku Dayak menggunakan bedak dingin yang berasal dari beras yang dicampur bersama bengkoang dan pandan wangi. Hal Itulah yeng menjadi daya tarik Suku Dayak.

2. Suku Sunda

Suku Sunda menduduki posisi ke-2 menjadi penghasil Wanita tercantik di Indonesia. Sama halnya bersama Suku Jawa, wanita Suku Sunda terhitung menggunakan rempah-rempah tradisional untuk merawat dirinya. Hal tersebut memicu wanita Suku Sunda mempunyai daya tarik sendiri.

3. Suku Bugis

Suku Bugis menduduki posisi ke-3 menjadi penghasil Wanita tercantik di Indonesia. Wanita Suku Bugis kondang mempunyai rasa sabar yang sangat tinggi. Jika Wanita Bugis menikah bersama pasangannya , Mereka bersama lapang dada dapat ikut didalam keadaan apapun pasangannya.

4. Suku Jawa

Suku Jawa menduduki posisi ke-4 menjadi penghasil Wanita cantik di Indonesia. Wanita Suku Jawa sebetulnya bahagia merawat dirinya bersama ramuan tradisional agar menghasilkan kecantikan yang alami.
Selain itu, Suku Jawa terhitung menggunakan tutur kata yang halus dan sopan. Hal itulah yang menjadi daya tarik Suku tersebut.

5. Suku Aceh

Suku Aceh menduduki posisi ke-5 menjadi penghasil Wanita cantik di Indonesia. Sudah bukan rahasia lagi kalau Wanita aceh kondang dapat pandainya didalam merawat diri dan merawat syariat agama. Selain itu, Wanita suku Aceh bukan cuma kondang dapat kecantikannya namun akhlak yang bagus agar menambah daya tarik.

Tradisi Suku Tengger Yang Bertahan Diera Gempuran Zaman

Jawa Timur adalah area yang kaya bakal seni, budaya, dan tradisi. Berbagai kebiasaan area yang ada di lokasi ini punya latar belakang yang beragam, dan masih dilestarikan sampai saat ini. Salah satunya adalah, kebiasaan suku Tengger.

Tradisi suku Tengger yang populer antara lain, upacara Kasada atau Yadnya Kasada. Kemudian, ada kembali upacara Mecaru, dan masih banyak lagi. Beberapa kebiasaan suku Tengger ini masih ditunaikan sampai saat ini, dan tiap-tiap punya makna yang sakral.

Tradisi Suku Tengger Berikut ini penjelasan tentang sebagian kebiasaan suku Tengger yang dihimpun dari beragam sumber.

1. Yadnya Kasada

Tradisi suku Tengger yang pertama adalah, upacara Kasada atau Yadnya Kasada. Upacara ini, merupakan merupakan sambungan dari proses keyakinan masa prasejarah yang terlalu fokus terhadap pemujaan arwah leluhur dan kultus Gunung Bromo sebagai pancering jagad atau poros dunia (axis mundi).

Kasada adalah ritual pemberian kurban (ngelabuh) dari keturunan R.Kesuma di kawah Gunung Bromo cocok dengan keyakinan keagamaan penduduk Tengger. Kasada dilaksanakan setiap tahun, mangsa asada, tanggal 14 bulan purnama. Kasada itu mirip dengan sedekah bumi dan sinyal syukur atas semua pemberian Tuhan Yang Maha Esa.

Beberapa hari sebelum saat Upacara Kasada dimulai, penduduk bakal mengerjakan sesajian yang berisi beraneka macam hasil pertanian dan ternak. Pada malam upacara berlangsung, mereka bakal berbondong-bondong mempunyai ongkek yang berisi sesaji-sesaji berikut menuju pura.

Tepat pada tengah malam, upacara pelantikan dukun dan pemberkatan umat di pura berikut bakal berlangsung. Selepas upacara selesai, ongkek-ongkek yang berisi beraneka sesajian berikut bakal dibawa dari kaki gunung menuju puncak gunung. Sesampainya di puncak, mereka bakal melemparkan sesajian-sesajian berikut ke kawah Gunung Bromo sebagai simbol pengorbanan yang dilaksanakan oleh nenek moyang.

2. Unan-Unan

Tradisi suku Tengger selanjutnya adalah, Unan-Unan. Upacara ini diadakan untuk kembali menyelaraskan alam dikarenakan adanya bulan yang dihapus pada th. manis atau th. kabisat. Dalam bahasa Tengger, Unan-Unan berarti melengkapi bulan yang hilang agar kembali utuh. Uniknya, upacara ini diadakan setiap lima th. sekali dan kudu diadakan di setiap desa.

Tujuan dari Unan-Unan termasuk untuk memberi tambahan sedekah kepada alam dan isinya, termasuk pada mereka yang melindungi sumber mata air, desa, dan tanah untuk pertanian. Unan-Unan termasuk kerap disebut bersih desa, yang dimaknai sebagai melepaskan desa dari masalah makhluk halus atau bhutakala dan sebagai wujud keinginan agar terhindar dari penyakit dan terbebas dari penderitaan dalam kehidupan.

Pada upacara ini, penduduk bakal mengurbakan kerbau. Pemilihan hewan kurban ini dikarenakan orang Tengger yakin bahwa kerbau merupakan hewan pertama yang nampak di bumi. Ketika upacara berlangsung, semua penduduk bergotong-royong buat persiapan semua persiapannya dan mengesampingkan perbedaan agama.

3. Upacara Mecaru

Tradisi suku Tengger yang ketiga adalah upacara mecaru. Pelaksanaannya diawali sejak pagi di masing-masing desa sesudah itu dilanjutkan pada siang hari, di mana semua umat Hindu suku Tengger di Gunung Bromo melanjutkan upacara Mecaru bersama dengan atau Tawur Agung Kesanga yang dipusatkan di lapangan Telogosari, Tosari, Pasuruan. Upacara yang diikuti ribuan umat Hindu suku Tengger di kawasan Gunung Bromo berikut sesudah itu dilanjutkan bersama dengan mengarak puluhan Ogoh-ogoh ke masing-masing desa di wilayah Kecamatan Tosari, Tutur (Nongkojajar), dan Puspo.

Umat Hindu suku Tengger yang udah bersih berasal dari efek karakter jelek, sesudah itu melaksanakan Catur Berata Penyepian, yakni tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak bersenang-senang (Amati Lelalungan). Mecaru merupakan kronologis prosesi upacara yang dijalankan umat Hindu untuk menyongsong Hari Raya Nyepi sebagai usaha introspeksi diri untuk mendekatkan diri pada Sang Hyang Widi, sesama manusia, serta lingkungan, atau yang disebut Tri Hita Karana.

4. Perayaan Hari Karo

Hari Karo bagi penduduk Tengger adalah hari raya paling besar. Datangnya hari ini terlampau dinanti-nanti oleh penduduk Tengger. Pada dasarnya, hari raya Karo dirayakan sejalan bersama dengan hari raya Nyepi.

Dalam kebiasaan suku Tengger yang satu ini, penduduk Tengger akan melaksanakan pawai bersama dengan mempunyai hasil bumi. Kemudian, ada pula pementasan kesenian adat seperti pergelaran Tari Sodoran. Selanjutnya acara dilanjutkan bersama dengan bersilaturahmi ke rumah saudara dan terhitung tetangga.

5. Upacara Pujan Mubeng

Diselenggarakan pada bulan kesembilan atau Panglong Kesanga, yakni pada hari kesembilan setelah bulan purnama. Pada kebiasaan suku Tengger ini, semua warga berkeliling desa bersama dengan dukun sambil memukul ketipung. Mereka berjalan berasal dari batas desa anggota timur memutari empat penjuru desa. Upacara ini ditujukan untuk bersihkan desa berasal dari problem dan bencana. Perjalanan keliling berikut diakhiri bersama dengan makan bersama dengan di rumah dukun. Makanan yang di sediakan berasal berasal dari sumbangan warga desa.

6. Ritual Ojung

Ojung merupakan tidak benar satu kesenian asli suku Tengger. Tradisi suku Tengger yang satu ini, merupakan perkelahian satu lawan satu pakai senjata yang terbuat berasal dari rotan. Kedua petarung akan saling mencambuk satu mirip lain bersama dengan rotan tersebut. Pemenang Ojung adalah peserta yang lebih banyak mencambuk. Ojung bisa diikuti oleh pria berasal dari suku Tengger berasal dari usia 17 sampai 50 tahun. Tak cuma menjadi kesenian, Ojung terhitung digelar sebagai wujud ritual memohon hujan kepada Sang Pencipta dan biasa dijalankan pas musim kemarau.